0852-9266-3693

Mau Pasang Iklan?

Informasikan Bisnis & Usaha Anda di Sini

06 Januari 2015

AKIK WONOGIREN MONCER

WONOGIRI – Setelah batu mulia fireopal menggegerkan
perbatuan Tanah Air dengan kemilaunya yang seperti api,
belum lama ini di perbukitan Wonogiri ditemukan lagi batu
mulia jenis baru berwarna hijau.
Setelah digosok dan dipoles, batuan yang tersebar di
selatan Ngadirojo itu menampakkan pamor seindah batu
giok dan Bacan. Sambil menunggu hasil uji laboratorium,
batu unik tersebut dinamai Giok Wonogiren.
“Begitu tren batu akik meluas, saya iseng mencari batuan di
perbukitan di desa saya. Kemudian, saat memecah batu
hitam di salah satu bukit, ternyata di dalamnya ada batuan
warna kehijauan. Ternyata, batu hitam yang di dalamnya
ada bagian berwarna kehijauan seperti lumut itu banyak.
Kemudian, saya mencoba ndandakne menjadi akik.
Ternyata hasilnya bagus. Setelah itu, saya mengumpulkan
pemuda sini untuk mengamankan batuan itu,” kata M.
Zainudin ditemui di rumahnya di Desa Kerjo Lor,
Kecamatan Ngadirojo, Wonogiri, Jawa Tengah kepada
Radar Solo (Jawa Pos Group).
Untuk lebih memastikan batuan hijau itu benar-benar batu
berkualitas, pria yang juga pejabat wakil ketua komisi A
DPRD Wonogiri itu kemudian membeli alat ukur kekerasan
batu (diamond selector). Setelah diukur, Giok Wonogiren
memiliki kekerasan antara 5 hingga 6 skala mohs. Tingkat
kekerasan itu berada di tataran menengah dalam daftar
kekerasan batu mulia yang mencapai 10 skala mohs.
Meski demikian, Zainudin tak langsung puas. Dia memilih
mengirimkan sampel batuan yang ia temukan ke sebuah
laboratorium di Jakarta. Dia ingin ada kajian ilmiah
mengenai batuan yang menurut dia berpotensi menaikkan
derajat hidup warga di desanya.
Selain itu, Zainudin juga menggalang pemuda di desanya
untuk mengusung batuan tersebut ke rumah mereka
masing-masing. Tujuannya agar lebih aman dari jarahan
pencari batu dari luar desanya. Selain itu, dia juga
mengajak beberapa pemuda desa belajar mengolah batuan
menjadi mata cincin (akik).
“Kebetulan, bukit di mana batu ini banyak ditemukan
merupakan kawasan gersang. Jadi, tidak sampai
mengganggu ekosistem. Kami juga berharap kajian dari
laboratorium segera keluar,” tambahnya.
Temuan batu tersebut merupakan tantangan bagi dirinya
serta pemerintah. Dia yakin, jika tren batu akik terus
bertahan seperti yang terjadi saat ini, maka Giok Wonogiren
akan berperan banyak dalam peningkatan derajat
kehidupan warga di desanya. Sebab, selain tersedia banyak
di Ngadirojo, batuan hijau itu memiliki karateristik yang
tidak ditemukan di batuan lain.
“Batu ini tembus cahaya. Selain yang absolut hijau muda
dan tua, ada juga yang memperlihatkan urat-urat hijau
seperti lumut. Setelah diproses, batu ini seperti berminyak
hingga terlihat selalu kempling dan mencorong,” tandasnya
sambil menunjukkan bongkahan batuan mentah dan yang
sudah diproses menjadi akik.

sumber: jpnn.com

Tidak ada komentar:
Write komentar

Punya informasi terbaru yang ingin dimuat di web ini?. Hubungi kami di link ini:- https://t.co/quGl87I2PZ
Mau langganan informasi?