0852-9266-3693

Mau Pasang Iklan?

Informasikan Bisnis & Usaha Anda di Sini

21 Januari 2015

DAWAM: PKS BUKAN RADIKAL

beritaparanggupito.com_ Dawam Rahardjo, lahir di Solo, Jawa
Tengah, 20 April 1942, adalah seorang pengamat sosial
ekonom Indonesia terkemuka. Ia mendapatkan gelar S-1
dari Fakultas Ekonomi UGM (1969). Dia sangat lama
berkecimpung dalam dunia penelitian dan secara terus-
menerus mengamati perkembangan masyarakat Indonesia.
Berbagai lembaga penelitian bergengsi, seperti LP3ES, lahir
berkat tangan dinginnya. Gelar Guru Besar dalam bidang
ekonomi diperolehnya dari Universitas Muhammadiyah
Malang (UMM) pada 1993. Kini, dia menjabat sebagai ketua
dewan direktur Lembaga Studi Agama dan Filsafat. Berikut
wawancaranya dengan wartawan senior Republika ,
Muhammad Subarkah:
Dahulu ketika para bapak-bangsa ini berdebat soal konstitusi di
BPUPKI, yang ada di sana hanyalah kelompok Islam dan
nasionalis. Apa dengan demikian bila salah satu pihak
dihilangkan--dalam hal ini Islam Politik--maka jelas itu
pengingkaran sejarah?
Iya, memang begitu. Dahulu di BPUPKI itu kan hanya diikuti
dua golongan, Nasionalis dan Islam. Saat itu, kekuatan
komunisme sudah bangkrut ditindas oleh pemerintah
kolonial Belanda. Demikian juga golongan sosialis, pada
saat itu golongan ini belum lahir. Golongan sosialis baru
lahir setelah kemerdekaan. Jadi, kedua golongan terakhir itu
tak ada dalam BPUPKI.
Nah, karena tak ada dalam BPUPKI, maka dimengerti bila
keduanya--sosialis dan komunis--menentang Pancasila dan
menentang UUD 1945. Jadi, kalau ada pihak yang kini
terus-menerus berusaha keras menghapus Islam politik,
maka mereka ini adalah kelompok orang yang tak mau
melihat kenyataan.
Dahulu, misalnya, ada pandangan bahwa kekuatan Islam
politik itu Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Partai ini
dianggap memperjuangkan syariat Islam dan negara Islam.
Nah, sekarang, yakni pada masa pemerintahan Presiden
Susilo Bambang Yudhoyono, malah mereka masuk dalam
kabinet atau pemerintahan. Dan faktanya membuktikan
ketika PKS ada dalam pemerintahan mereka tak pernah
memperjuangkan syariat Islam dalam artian mendirikan
negara Islam. Tudingan itu ternyata tak ada dan tak
terbukti!
Malahan, saya melihat kini kekuatan Islam politik terus
melakukan proses demokratisasi dan bahkan terjadi proses
deradikalisasi. Sekarang PKS sama sekali tak ada tanda-
tanda radikal. Partai itu hanyalah militan. Dan, antara
radikal dan militan itu artinya berbeda sama sekali serta ini
sering disalahpahami.
Kalau begitu, apa bedanya radikal dan militan itu?
Ya beda. Kalau radikal itu menginginkan perubahan secara
mendadak, sedangkan militan itu tak begitu. Militan adalah
konsisten berjuang secara terus-menerus dengan disertai
kerja keras serta penuh kesabaran. Nah, maka itu kedua
kata ini hendaknya jangan salah dipahami karena beda arti
dan pemahamannya.

sumber: republika online

Tidak ada komentar:
Write komentar

Punya informasi terbaru yang ingin dimuat di web ini?. Hubungi kami di link ini:- https://t.co/quGl87I2PZ
Mau langganan informasi?