0852-9266-3693

Mau Pasang Iklan?

Informasikan Bisnis & Usaha Anda di Sini

24 Februari 2016

10 Prinsip Mendidik Anak

Oleh: Cahyadi Takariawan

Sudah menjadi kewajiban orang tua untuk mendidik anak-anak dengan yang sebaik-baiknya. Keluarga adalah lembaga pertama dan utama dalam melakukan proses pendidikan anak. Orang tua adalah guru pertama dan utama dalam mendidik anak. Saat anak sudah memasuki bangku sekolah, bukan berarti orang tua bisa berlepas diri dalam mendidik anak dengan alasan sudah dititipkan ke sekolahan yang mahal dan internasional.

Lembaga pendidikan hanyalah perangkat tambahan untuk membantu orang tua dan negara dalam mendidik generasi. Pada prinsipnya pendidikan anak harus dilakukan sejak di dalam rumah oleh kedua orang tuanya. Tentu saja pihak-pihak lain harus ikut bertanggung jawab, seperti lingkungan, sekolah, pemerintah, ormas, LSM maupun pihak swasta. Semua pihak berkolaborasi untuk menciptakan pendidikan terbaik bagi generasi penerus bangsa.

Karena orang tua adalah pendidik pertama dan utama bagi anak-anak sejak dari dalam rumah tangga, maka mereka harus melakukan proses pendidikan denganbersungguh-sungguh dan bertanggung jawab. Paling tidak ada sepuluh prinsip dalam pendidikan anak yang harus diaplikasikan oleh orang tua di dalam kehidupan keluarga.

1.    Memilihkan Calon Ibu dan Calon Ayah Bagi Anak

Pendidikan bukan dimulai ketika anak sudah lahir, atau ketika anak sudah memasuki usia sekolah. Bahkan jauh sebelum itu. Proses pendidikan anak sesungguhnya sudah dimulai sejak sebelum janin terbentuk. Bahkan sejak seorang lelaki memilih calon ibu bagi calon anak-anaknya, serta seorang perempuan memilih calon ayah bagi calon anak-anaknya.

Ketika seorang lelaki dan perempuan memilih jodoh dan memproses pernikahan dengan cara yang benar dan baik, maka itu merupakan modal awal pendidikan terhadap anak. Mereka membentuk kehidupan rumah tangga dengan motivasi ibadah untuk mewujudkan kondisi rumah tangga yang sakinah, mawadah wa rahmah. Dengan demikian orang tua telah memiliki pondasi niat yang benar, serta memiliki visi yang sama untuk meraih surgaNya.

2.    Interaksi Suami Istri yang Baik

Ketika suami dan istri berinteraksi dengan baik sesuai ajaran agama, maka akan memberikan pengaruh kebaikan pula bagi anak-anak mereka kelak. Misalnya interaksi yang lembut dan penuh kasih sayang di antara suami dan istri, akan memberikan pengaruh pula terhadap suasana kasih sayang dalam kehidupan anak. Sebaliknya interaksi yang penuh kekerasan dan kakasaran, akan memberikan negaruh pula bagi pendidikan anak.

Keharmonisan suami istri menjadi kunci penting dalam pendidikan anak. Jika suami dan istri tidak kompak, tidak harmonis, senang berantem di hadapan anak-anak, kerap terjadi tindak kekerasan dalam rumah tangga, akan sangat berpengaruh negatif terhadap perkembangan kejiwaan anak. Kartini Kartono (1998) menyatakan kondisi keluarga berpengaruh terhadap pembentukan kenakalan remaja.

Islam bahkan mengajarkan adab hubungan suami istri, yang salah satunya adalah berdoa sebelum melakukan hubungan seksual, ini merupakan bagian dari proses pendidikan anak. Ketika hubungan suami istri yang menjadi sarana terbentuknya janin dalam kendungan ibu dilakukan dengan etika yang benar, akan bisa memberikan pengaruh kebaikan bagi bayi yang “dihasilkan”.

3.    Menerima Anak Sebagai Amanah Allah

Anak adalah anugerah Allah dan sekaligus amanah dari-Nya untuk kita jaga dan kita rawat dengan sebaik-baiknya. Manusia bisa memiliki rencana dan program dalam kelahiran anak, namun Allah yang menentukan akhirnya. Maka tatkala mendapatkan anugrah berupa janin dalam kandungan istri, hendaknya bersyukur dan menerima anak sebagai amanah Allah yang dititipkan dan harus dirawat dengan baik, walaupun tidak sesuai dengan rencana manusia.

Termasuk ketika anugrah Allah tersebut berupa anak yang lahir “tidak sempurna” dan tidak sesuai harapan orang tua. Misalnya memiliki cacat fisik, cacat mental, atau memiliki kekurangan dalam sisi tertentu, tetap harus diterima dengan lega sebagai amanah dan pemberianNya. Kadang orang tua menghendaki anak laki-laki, ternyata dianugerahi anak perempuan, dan sebaliknya. Apapun kondisi anak kita saat lahir, terkait fisik ataupun kondisi lainnya yang menjadi bawaan lahir, hendaklah diterima sebagai anugrah sekaligus amanah dari Allah.

Jangan ada penolakan terhadap kehadiran anak, walaupun kehamilannya mungkin tidak direncanakan atau di luar perencanaan kedua orang tuanya. Jika sejak menjadi janin saja sudah ada penolakan dari kedua orang tuanya, akan bisa menjadi benih ketidaknyamanan anak dalam kehidupannya kelak. Walaupun tidak direncanakan, namun sesungguhnyalah manusia tidak bisa “memproduksi” anak. Semuanya adalah pemberian dan amanah Allah.

4.    Mendampingi Proses Tumbuh Kembang Anak dengan Kasih Sayang

Orang tua wajib mendampingi proses pertumbuhan dan perkembangan anak, sejak sebelum lahir hingga mereka dewasa, dengan kasih sayang. Ajaran Islam telah memberikan bimbingan pendampingan bagi orang tua sejak janin masih dalam kandungan, hingga saat kelahiran, dan masa-masa pertumbuhan anak. Dalam masa kehamilan, hendaknya suami dan istri merawat janin dengan sebaik-baiknya. Suami harus mendampingi istri dalam masa-masa kehamilan yang berat, dengan perlakuan yang penuh kasih sayang dan tanggung jawab. Istri harus merawat janin dengan cara memperhatikan makanan dan kesehatan, termasuk asupan sisi ruhaniyah dengan memperbanyak ibadah.

Suami juga harus mendampingi istri saat melahirkan bayi, agar istri merasa tenang dengan pendampingan suami. Setelah lahir, segera dilakukan berbagai macam tuntunan menyambut kelahiran anak. Melaksanakan tuntunan aqiqah, misalnya, menunjukkan sebuah proses perhatian serta pendampingan dari orang tua terhadap anak sejak masa kelahirannya. Pemberian nama yang baik, pemilihan nutrisi terbaik bagi bayi berupa ASI ekslusif, perlakuan yang baik dari kedua orang tuanya, merupakan cara membersamai proses tumbuh kembang anak di masa bayi. Namun tugas orang tua tidak cukup sampai di sini, karena harus menghantarkan anak-anak menuju kedewasaan.

Anak-anak memerlukan pendampingan dari orang tua untuk mengarahkan mereka, memotivasi mereka, membantu kesulitan mereka dan sekaligus meluruskan kesalahan mereka. Apalagi di zaman sekarang yang penuh dengan berbagai problematika kehidupan yang kian kompleks, harus semakin kuat dalam mendampingi tumbuh kembang anak. Orang tua harus membersamai anak dalam pilihan fitur teknologi dan model pergaulan mereka agar tidak salah dan tersesat.

Maka kasih sayang orang tua merupakan bekalan yang luar biasa besarnya bagi kebaikan anak-anak hingga masa dewasa. Sikap kasih sayang yang dikembangkan dalam interaksi orang tua dan anak, akan menyebabkan anak merasa nyaman dalam pendampingan orang tuanya.

5.    Memberikan Makanan yang Halal dan Thayib untuk Anak

Hendaknya orang tua hanya memberikan asupan makanan yang halal dan thayib untuk anak. Thayib memiliki makna yang luas, termasuk di dalamnya memenuhi kandungan gizi. Apabila anak-anak selalu mendapatkan makanan yang halal dan thayib, mereka akan tumbuh menjadi anak-anak salih, salihah, sehat, kuat dan cerdas. Mereka akan menjadi generasi yang sehat secara jasmani maupun ruhani.

Jangan menganggap makanan, minuman serta konsumsi sehari-hari tidak terkait dengan pendidikan. Jangan mengira asupan makanan anak-anak hanya soal selera saja. Konsumsi sehari-hari adalah perkara penting yang sangat diperhatikan oleh ajaran agama. Tidak boleh menganggap remeh dan ringan urusan makan, karena menyangkut dampak yang panjang hingga ke akhirat kelak akan dimintai pertanggungjawaban.

6.    Memberikan Lingkungan yang Kondusif untuk Kebaikan Anak

Anak-anak sangat dipengaruhi oleh lingkungan. Maka orang tua harus memberikan dan memilihkan lingkungan yang baik dan kondusif untuk pendidikan anak. Sejak dari lingkungan tempat tinggal, hendaknya orang tua memperhatikan pemilihan rumah tempat tinggal yang ramah anak dan keluarga. Lingkungan para pemabuk dan penjudi, menjadi lingkungan yang tidak ramah bagi anak-anak dan keluarga.

Selain tempat tinggal, juga harus memilihkan lingkungan pergaulan yang baik. Walaupun tinggal di lingkungan yang baik, namun jika anak-anak memiliki lingkungan pergaulan yang negatif, akan mudah berpengaruh kepada dirinya. Dalam dunia cyber saat ini, yang harus sangat diwaspadai adalah pergaulan di dunia maya. Pergaulan melalui jejaring sosial, bisa menyeret anak ke dalam bahaya. Orang tua tidak boleh melepas pendidikan anak melalui internet dan gadget. Namun harus memberikan lingkungan yang kondusif untuk pendidikan dan pembentukan karakter mereka.

7.    Menumbuhkan Potensi Kebaikan Anak

Semua anak memiliki potensi kecerdasan dan kebaikan, karena mereka terlahir dalam keadaan fitrah. Orang tua wajib menumbuhkan berbagai potensi kebaikan dan kecerdasan anak sebagai bekal kehidupan mereka kelak ketika sudah dewasa. Potensi ruhaniyah (spiritual), fikriyah (intelektual), jasadiyah (fisik), maupun amaliyah, harus ditumbuhkan dengan seimbang. Jangan hanya mengembangkan satu aspek dengan meninggalkan banyak aspek lainnya. Karena seseoang tidak akan menjadi baik hanya dengan satu potensi saja, namun kebaikannya ditopang oleh berbagai sisi potensi dalam dirinya.

Demikian pula orang tua harus cermat memahami ranah kecerdasan anak yang berbeda-beda. Semua anak Allah berikan kecerdasan, yang bisa jadi potensi kecerdasan yang menonjol pada seorang anak berbeda dengan anak yag lain. Potensi kecerdasan seorang anak tidak serta merta bisa dibandingkan dengan anak yang lain, justru karena memiliki kecerdasan yang berbeda. Orang tua harus mengarahkan anak pada potensi kecerdasan yang menonjol dalam dirinya, agar ia lebih optimal dalam menjalani masa pembelajaran.

8.    Memilihkan Sekolah Terbaik untuk Anak

Ketika anak-anak sudah mulai memasuki usia sekolah, orang tua berkewajiban memilihkan sekolah atau lembaga pendidikan yang terbaik bagi mereka. Pilihan model pendidikan sangat banyak dan beragam, pilihkan sesuai dengan situasi dan kondisi anak, karena potensi mereka berbeda-beda. Ada model sekolah reguler, ada model boarding, ada pondok pesantren, ada pula pilihan home-schooling yang dididik secara mandiri oleh ibu dan bapak sendiri.

Sekolah terbaik bukanlah sekolah yang berharga paling mahal dengan gedung yang paling megah dan fasilitas yang paling lengkap. Sekolah terbaik adalah sekolah yang mampu memberdayakan potensi kebaikan dan kecerdasan anak dengan optimal. Maka bentuk sekolah bagi anak bisa bermacam-macam dan juga bisa berbeda-beda, tergantung kondisi dan situasi yang ada pada diri anak itu sendiri.

9.    Memberikan Keteladanan untuk Anak-anak

Orang tua harus memberikan keteladanan dalam kebaikan bagi anak-anak. Inilah tugas maha berat bagi orang tua dalam pendidikan anak. Ayah dan ibu adalah model bagi anak-anak. Mereka akan mudah menduplikasi dan mereplikasi semua yang ada pada diri orang tua. Maka tatkala orang tua memberikan contoh teladan utama dalam hidup sehari-hari, hal itu akan mudah dicontoh oleh anak dalam hidup mereka. Demikian pula ketika orang tua memberikan contoh ketidakbaikan, akan mudah dicontoh oleh anak dalam kehidupan mereka.

Interaksi setiap hari antara orang tua dengan anak, membuat anak mengerti dengan detail perilaku, sifat, dan karakter orang tua. Jika orang tua malas ibadah, sulit bagi anak untuk rajin ibadah. Jika orang tua rajin maksiat, sulit bagi anak untuk meninggalkan maksiat, demikian seterusnya. Anak sangat mengidolakan orang tua mereka, walaupun mungkin tidak pernah mereka ucapkan. Itu karena orang tua adalah figur yang pertama mereka kenal dalam kehidupan mereka.

10. Menjadi Sahabat bagi Anak

Orang tua harus menjadi sahabat bagi anak-anak, tempat curhat, teman mengobrol, teman bermain serta teman berkegiatan bagi anak. Terlebih lagi saat anak sudah mulai remaja, orang tua harus semakin mendekat dan menjadi sahabat bagi anak. Dengarkan keluhan dan pendapat anak, jangan hanya memberi perintah dan nasihat. Apresiasi kebaikan dan prestasi anak, namun juga berilah hukuman atas kesalahan dan pelanggarannya.

Jika orang tua bisa menjadi sahabat bagi anak, akan membuat anak merasa nyaman dan betah di rumah. Anak akan merasa diterima dan enjoy dengan orang tuanya, sehingga mereka lebih bisa leluasa menyampaikan berbagai harapan, gagasan, “uneg-uneg” dan berbagai keluh kesah hanya kepada orang tua. Semua persoalan kehidupan mereka terutama di masa remaja yang sangat rawan dinamika, akan bisa teratasi dengan positif sesuai arahan orang tua.

Namun jika orang tua memerankan diri sebagai musuh bagi anak, akan membuat anakpun semakin menjauh dari orang tua. Mereka akan mencari sahabat sendiri di luar rumah yang justru semakin menjauhkan mereka dari kehangatan keluarga, dan bisa menjerumuskan mereka ke dalam kerusakan. Mendekatlah kepada anak, jadilah sahabat mereka yang mengasyikkan.

 

Daftar Pustaka

1.    Abdullah Nasih Ulwan, Pendidikan Anak dalam Islam, Pustaka Amani, Jakarta, 2002

2.    Kartini Kartono, Patologi Sosial 2, Radja Grafindo Persada, Jakarta, 1998

Tidak ada komentar:
Write komentar

Punya informasi terbaru yang ingin dimuat di web ini?. Hubungi kami di link ini:- https://t.co/quGl87I2PZ
Mau langganan informasi?